Selasa, 11 Desember 2012

Kesurupan Menurut Kedokteran Jiwa, Histeria?



Fenomena Kesurupan di Sekolah
Kesurupan cukup banyak diperbincangkan dalam berbagai media,  lebih-lebih jika muncul sebagai kesurupan masal siswa di sekolah ataupun buruh di pabrik. Secara tradisional hal ini biasanya dikaitkan dengan adanya gangguan dari roh-roh halus, sedangkan menurut ilmu kejiwaan hal itu merupakan reaksi salah terhadap permasalahan yang dihadapi penderitanya.

Kesurupan
Kesurupan cukup banyak dijumpai di masyarakat siswa taupun karyawan yang menghadapi krisis. Kesurupan massal yang terjadi sebenarnya pada awalnya merupakan “kesurupan” individual yang kemudian berubah menjadi massal karena ada orang lain yang tersugesti. Kesurupan individual yang terjadi muncul sebagai reaksi atas apa yang sedang dirasakan. Kesurupan pada hakikatnya adalah reaksi kejiwaan yang salah, yang disebut juga reaksi disosiasi ataupun reaksi konversi. Kejadian kesurupan cenderung terjadi berulang atau kambuh-kambuhan, selama penanganan kejiwaannya belum benar.

Hysteria
Histeria
Gangguan jiwa yang sudah lama dikenal sejak dulu ialah hysteria. Pada mulanya orang menyangka bahwa yang dihinggapi penyakit ini hanya kaum wanita, namun nyatanya laki-laki pun dapat mengalami gangguan ini. Dalam menghadapi suatu masalah seseorang akan bersikap sesuai dengan kemampuannya sejalan dengan pengalaman dan perkembangan kejiwaannya.

Orang yang sehat pertumbuhan kejiwaannya mampu bersikap benar terhadap permasalahan yang ada, tidak banyak mengubah perilaku dirinya. Dia dapat menerima apa yang ia anggap baik dan menolak apa yang ia anggap buruk berdasarkan norma yang ada. Meski banyak masalah, namun kondisi dalam dirinya tetap stabil dan utuh; dia merespons permasalahan secara realistis dan berorientasi pada pemecahan masalah.

Orang yang perkembangan jiwanya tidak sempurna ataupun terhambat mungkin menanggapi masalah dengan cara yang salah, misalnya mengadakan reaksi regresi (memundurkan diri); bentuk ini memunculkan orang yang jika menghadapi masalah “berat” lalu menggigit jari tangannya, karena dia menjadikan dirinya kembali seperti bayi yang jika takut lalu lari ke pelukan ibunya untuk mendapatkan ketenangan dengan adanya kesempatan menetek (ibu jarinya dianggap sebagai puting susu ibunya, lambang kasih sayang). Ada orang yang mengompol jika terlalu tegang, ataupun perut kembung ketika khawatir.

Bentuk lain yang paling terkenal adalah reaksi konversi; di sini dalam menghadapi masalah itu penderita mengubah sikap dirinya (baca: kejiwaannya) ke bentuk lain, yang dalam hal yang berlebihan ini berupa konversi histerik, yang secara singkat disebut sebagai histeria. Beban pikiran yang berat, rasa tertekan (depresi), putus asa (frustasi), ketidakadilan dapat memunculkan histeria itu.

Seorang yang sedih, memperlihatkan raut muka yang khas. Raut muka sedih itu sebenarnya merupakan reaksi tubuh yang sesungguhnya dan wajar. Penampilan raut muka adalah salah satu bentuk komunikasi non-verbal. Komunikasi seperti itu juga dapat terjadi dalam bentuk lain. Seorang istri dapat saja tiba-tiba “menjadi lumpuh” kedua kakinya setelah ia mengancam akan meninggalkan suaminya. Itu adalah suatu reaksi konversi atau reaksi histerik sebagai perwujudan suatu bentuk komunikasi. Reaksi konversi histeris  yang berupa kelumpuhan melambangkan pembatalan ancamannya, yang merupakan permohonan kasih sayang baginya. Kelumpuhan itu bukanlah kelumpuhan yang benar-benar senyatanya; artinya kalaulah ada tikus yang lari menuju dirinya dia pun akan bangkit dan lari untuk menghindar.

Tindakan awal
Walaupun jika ditanya sepertinya tak mendengar, itu harus dipahami sebagai bukti bahwa penderita histeria
tidak mau mengungkapkan permasalahannya. Namun sifat histeriknya dapat terungkap oleh pertanyaan-pertanyaan tentang manifestasi psikosomatik (gangguan tubuh yang muncul) yang muncul. Dengan memahami bahwa seseorang lebih rela menderita penyakit badaniah daripada menderita penyakit jiwa, maka kalau dia mendengar orang yang menyatakan “penyakitnya” sebagai manifestasi gangguan mental, ia akan menerimanya sebagai penghinaan, yang merendahkan martabatnya dan nama baik keluarganya. Dia akan berontak dengan “memperparah” penampilan histerisnya. Penderita konversi histerik akan bereaksi lebih histerik jika ditanya tentang penderitaan jiwanya; pertanyaan dapat dijawab dengan tangisan, pingsan atau bahkan kejang-kejang. Pengungkapannya harus dilakukan secara tidak langsung. Misalnya: “Sudah pernah berobat pada dokter mana? Berobat pada dokter  pertama karena apa? Pada dokter lain karena apa?”

Apa yang harus dilakukan?
Guru ataupun pendamping perlu memahami bahwa penderita kesurupan atau histeria sebenarnya sadar, dapat mendengar. Pembangkitan semangat perlu dibisikkan, misalnya untuk mendorong penderita untuk berbuat sesuatu demi kebaikan dan kebahagiaan orang lain bukannya malah menyusahkan orang lain. Jika memungkinkan nantinya penderita dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter ahli jiwa untuk memperoleh bimbingan kejiwaan lebih lanjut demi masa depannya, yaitu untuk mampu bersikap yang benar dalam menghadapi masalah; penderita akan diajari dan dilatih mengelola stress dan konflik dengan baik dan benar.

Terlepas dari teori kedokteran jiwa yang diyakini saat ini, masih banyak fenomena kejiwaan yang belum bisa dijelaskan secara detail, misalnya menganai proses perubahan struktur fisik jaringan otak dan proses kimia otak (neurotransmiter) saat serangan histeria atau kesurupan ini terjadi, sehingga masih ada ruang diskusi untuk keyakinan agama, fenomena rohani dan dunia goib untuk berbicara, wallahualam bisshawab.

Salam Sehat!
dr Aidil Adlha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar