Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Januari 2013

Pirau Katup Semilunar Ciptaan Dokter Bedah Saraf RSUP DR Sardjito Selamatkan Ribuan Penderita Hidrosefalus

Katub Semilunar untuk Penderita Hidrosefalus

YOGYAKARTA, KOMPAS.com- Pompa Holter pada sebelum tahun 80-an menjadi satu-satunya alat untuk menyelamatkan bayi-bayi penderita hidrosefalus. Namun pompa buatan Amerika itu sering bermasalah, karena kerap terjadi sumbatan pada aliran pompa setelah dipasang. Akibatnya, para pasien yang kebanyakan adalah bayi harus menjalani operasi ulang.

Setelah bertahun-tahun menekuni sistem kerja alat tersebut dr. Sudiharto, dokter spesialis bedah syaraf RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, menyempurnakan alat ini hingga tidak terjadi penyumbatan. Alat tersebut dinamakan Pirau Katup Semilunar.

"Saya terinspirasi dari jantung. Di organ itu terdapat katup yang mengalirkan darah masuk dan keluar dari jantung secara terus menerus. Tuhan menciptakan dengan sempurna. Di jantung itu ada katup semilunar setengah bulat. Itu yang buat kita bisa bertahan dalam sekian puluh tahun. Saya pikir, kenapa saya tidak buat desain seperti itu untuk katub pompa holter," kata dr.Sudiharto, Senin (28/1/2013) di RSUP Dr. Sardjito.

hydrocephalus
Alat tersebut sejak ditemukan hingga saat ini setidaknya sudah terpasang pada sekitar 7.000 penderita hidrosefalus. Dari semua pasien yang dipasang alat ciptaannya, Sudiharto mengaku hanya sekali melakukan operasi ulang pada awal-awal pompa katup semilunar mulai digunakan.

Penyebabnya adalah setelah dipasang ternyata pertumbuhan bayi melebihi perkiraan panjang selang. "Waktu dipasang pasien masih kecil, seiring bertambah usia pasien makin tinggi hingga selang menjadi kuran panjang," jelasnya.

Pengalaman itu menjadikan Sudiharto semakin tahu panjang selang dari pompa yang hendak dipasang. Menurutnya, orang Indonesia memiliki tinggi badan 160-175 cm. Dengan demikian, ia harus memasang pompa berserta selang yang memiliki panjang 68-74 cm. Dari pengalaman, selang sepanjang itu cukup hingga pasien dewasa.

"Sekarang average sambungan selang dari leher ke perut 65-70 cm. Hanya kadang-kadang anak-anak sekarang cenderung lebih tinggi. Jadi, kita pasang dengan panjang 74 cm," tuturnya.

Sudiharto menjelaskan, untuk pemasangan alat pompa pada awalnya kepala di bedah. Kemudian dibuat lubang kecil untuk memasukkan pompa di sekitar rongga otak. Dari rongga otak dipasang selang yang terhubung melalui leher hingga masuk ke rongga perut di luar usus.
Pompa Holter Hidrosefalus Konvensional

"Kita masukkan di bawah kulit. Karena otak itu berdenyut sesuai dengan denyut jantung, katup ini membuka sesuai dengan denyutan jantung," katanya.

Di RSUP Dr. Sardjito, rata-rata setiap tahun 80 pasien dioperasi dan dipasang alat tersebut. Di rumah sakit lain, apabila dibutuhkan akan dikirim sesuai dengan permintaan. Harga alat pun relatif tidak mahal, berkisar Rp 1,5 juta hingga 2,5 juta.
Anak Hidrosefalus Bisa Hidup Normal

"Dari pantauan terhadap pasien saya yang menggunakan alat itu, mereka dapat tumbuh dan berkembang hingga dewasa sebagaimana manusia lainnya dan dapat berkeluarga serta memiliki keturunan," tegasnya.

Kamis, 13 Desember 2012

Modifikasi HIV Dapat Melawan Sel Kanker

Emily "Emma" Whitehead

Seorang anak perempuan di Amerika Serikat, Emma Whitehead (7), sudah lima tahun didiagnosis menderita kanker darah atau leukemia limfoblastik akut. Tahun lalu ia hampir meninggal karena kambuh, meskipun sudah menjalani pengobatan kemoterapi.

Namun pada tahun ini, ia telah hidup lebih lama daripada yang divonis selama tujuh bulan. Ia juga sudah bersekolah, memasuki tahun keduanya. Hal ini terjadi karena ia menjalani suatu metode baru pengobatan untuk melawan kanker yang dideritanya.

Virus HIV menempel pada sel manusia (Mikroskop Elektron)
Pengobatan ini menggunakan HIV yang telah dilemahkan sehingga metodenya hampir sama dengan vaksinasi. HIV dapat memprogram ulang gen yang mengelola sistem imun dan dilatih untuk dapat membunuh sel kanker.

Para ahli menghilangkan jutaan sel T, salah satu jenis sel darah putih, dan memasukkan gen baru yang akan memungkinkan sel T untuk membunuh sel kanker. HIV yang sudah dilemahkan digunakan untuk pengobatan karena virus ini mampu untuk mengubah materi genetik menjadi sel T.

Kemudian sel T yang telah direkayasa itu dipompa kembali ke dalam tubuh dengan tujuan untuk menyerang sel B, yang pada penderita leukemia berubah menjadi ganas. Sel T yang direkayasa dapat berada di dalam tubuh selama bertahun-tahun, namun kemampuannya untuk melawan penyakit akan berkurang.

Kerontokan rambut Emma karena Kemoterapi
Emma adalah salah satu dari banyak pasien yang menerima metode pengobatan ini. Meskipun demikian, pengobatan ini ternyata belum sempurna. Sel T yang direkayasa bisa saja membunuh sel B yang normal sehingga pasien dengan pengobatan ini membutuhkan suntikan imun globulin secara ruitn untuk mencegah infeksi. Pengobatan ini juga sangat mahal, saat ini biaya bersih yaitu sekitar 20.000 dollar AS. Para peneliti masih terus mengembangkan jenis pengobatan ini untuk menyempurnakannya.

Dr. Carl June, yang memimpin tim peneliti di University of Pennsylvania, pada akhirnya berharap bahwa teknik ini akan menghilangkan ketergantungan pada transplantasi sumsum tulang, yang sekarang menjadi pilihan terakhir bagi orang-orang penderita leukemia.

Bangsal Kanker Anak
Meskipun metode pengobatan ini dikatakan cukup berhasil pada Emma, namun beberapa orang dewasa dilaporkan tidak mengalami perbaikan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan pada pengobatan.

Metode pengobatan ini pertama kali dikembangkan para ahli di University of Pennsylvania. Sedangkan Emma menerimanya di Rumah Sakit Anak Philadelphia. Sampai saat ini, metode pengobatan serupa digunakan di Institut Kanker Nasional Amerika Serikat dan Memorial Sloan-Kettering Cancer Center.

Salam Sehat!
dr. Aidil Adlha

Kunjungi gerakan pengguna Facebook untuk mendukung Emma disini
Facebook Prayers for Emily (Emma) Whitehead

Berikut adalah beberapa koleksi foto Emma :










Jumat, 02 November 2012

Anak mengorok atau prestasi belajar turun? Hati-hati pembengkakan Amandel!


Amandel atau bahasa medisnya tonsil atau tonsila palatina adalah merupakan kelenjar limfoid/getah bening yang terdapat dalam rongga mulut/faring. Organ ini termasuk dalam sistem imun/pertahanan tubuh. Tonsil bersama dengan adenoid/tonsila faringeal dan tonsil lingual sering disebut cincin Waldeyer. Karena terhubung satu sama lain, maka apabila salah satu tonsil mengalami infeksi atau peradangan umumnya akan diikuti peradangan tonsil yang lain. Peradangan/infeksi pada amandel disebut tonsilitis.

Berdasarkan lamanya keluhan tonsilitis dibagi tiga yaitu tonsilitis akut bila keluhan kurang dari 3 minggu, disebut tonsilitis berulang/kronik bila terdapat 7 kali infeksi dalam 1 tahun atau 5 kali episode gejala dalam 2 tahun berturut-turut atau 3 kali infeksi dalam 1 tahun selama 3 tahun berturut-turut.

Gejala umum dari tonsilitis adalah demam, nyeri tenggorok, bau mulut, sulit dan nyeri menelan, pembengkakan kelenjar getah bening leher. Selain gejala umum diatas, pada tonsilitis manifestasi sumbatan jalan nafas juga sering dikeluhkan seperti tidur mengorok, bicara sengau/bindeng, henti nafas saat tidur (Obstructive sleep apnea),  nafas lewat mulut yang semuanya berdampak pada penurunan kualitas hidup seperti lemah, letih, lesu tak bersemangat, rasa mengantuk, gampang lelah, sulit konsentrasi sampai penurunan daya ingat.

Menurut rekomendasi AAO-HNS (American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery) indikasi klinik pengangkatan amandel/tonsil dengan atau tanpa adenoid adalah :

  • Pasien dengan serangan tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun yang tidak mendapat manfaat dengan pengobatan medikamentosa yang adekuat.
  • Pembesaran tonsil yang mengakibatkan maloklusi gigi-geligi atau adanya efek samping gangguan pertumbuhan mulut/wajah (orofacial growth) yang terdokumentasi oleh doker gigi.
  • Pembesaran tonsil yang mengakibatkan sumbatan jalan nafas atas seperti ngorok, bicara sengau, gangguan/kesulitan menelan, henti nafas saat tidur (sleep apnea syndrom), atau komplikasi penyakit kardiopulmonal (endokarditis bakterialis dsb).
  • Abses peritonsil yang tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa.
  • Bau mulut atau nafas menetap akibat tonsilitis kronik yang tidak responsive dengan pengobatan.
  • Tonsilitis kronik yang diasosiasikan dengan infeksi kuman streptokokus yang tidak responsive dengan pengobatan antibiotik.
  • Pembengkakan tonsil satu sisi yang dicurigai keganasan.
  • Otitis media akut atau otitis media supurative kronik berulang yang diakibatkan oleh tonsilitis.

Dengan demikian, apabila keluhan amandel anda seperti diatas dan memenuhi indikasi klinis untuk di angkat/operasi maka yang terbaik adalah demikian.

Sumber yang lain menyebutkan HTA 2004 mengelompokkan indikasi Tonsilektomi (Operasi pengangkatan amandel) menjadi dua yaitu absolut (sangat dianjurkan) dan relatif (boleh dilakukan) :

Indikasi Absolut

  • Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran nafas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner
  • Abseb peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase
  • Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam
  • Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi

Indiaksi Relatif

  • Terjadi episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat
  • Halitosis akibat tonsillitis kronis yang tidak membaik dengan pemberian terapimedis
  • Tonsilitis kronis berulang pada karier streptokokus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik Beta-laktamase resisten

Dari sumber yang sama disebutkan pula beberapa kondisi yang menyebabkan operasi Tonsilektomi tidak diajurkan yaitu :

Kontraindikasi

  • Gangguan perdarahan
  • Resiko anestesi yang besar atau penyakit berat
  • Anemia
  • Infeksi akut yang berat

Mitos

Banyak mitos tentang amandel yang beredar di masyarakat, antara lain:

1. Mitos, operasi amandel hanya boleh dilakukan pada anak  yang usianya telah mencapai 6-7 tahun.
Faktanya, menurut para ahli tidak ada batasan umur dalam keputusan operasi amandel.

2. Mitor, penyakit amandel hanyalah penyakit ringan dan tidak membahayakan.
Faktanya, menurut para ahli walaupun kebanyakan infeksi amandel tidak mengancam jiwa, tetapi bila kuman penyebabnya streptococcus beta hemoliticus, dapat menimbulkan komplikasi penyakit jantung dan ginjal yg berbahaya. Henti napas saat tidur akibat pembesaran amandel dapat menimbulkan problem kesehatan serius.

3. Mitos, amandel selalu berfungsi sebagai penyaring kuman,sehingga tidak boleh dioperasi.
Faktanya, menurut para ahli fungsi penyaring kuman pada amandel yg telah menjadi sarang kuman sangat minimal bahkan tidak ada lagi. Peran penyaring kuman masih dapat digantikan oleh organ  penyaring kuman lainnya di sekitar tenggorok. Kelenjar getah bening diseluruh tubuh berfungsi untuk menyaring kuman.

4. Mitos, operasi amandel adalah operasi kecil yang tidak ada risiko sama sekali
Faktanya, menurut para ahli, semua operasi memiliki resiko operasi baik sebelum, saat dan sesudah operasi.  operasi amandel adalah operasi didaerah jalan nafas yang tentu saja ada resiko  yang dapat ditimbulkan seperti perdarahan setelah operasi, penutupan jalan nafas dan sebagainya.  Namun demikian, dengan berkembangnya teknik dan peralatan operasi amandel, serta persiapan yang optimal sebelum operasi resiko-resiko ini dapat diminimalisir.

Sesuai dengan berbagai tingkatan kondisi penyakit amandel, penanganan tonsilitis (radang tonsil) sangatlah beragam, mulai dari terapi obat hingga operasi pengangkatan tonsil atau amandel sebagai solusi akhir.
So jangan anggap remeh pembesaran amandel, mari periksakan sejak dini.

Salam Sehat
dr. Aidil Adlha